Hipertensi Pada Kehamilan: Kenali Penyebab, Jenis, Dan Cara Mengatasi

hipertensi pada kehamilan

foto: pzimedia.com

Hipertensi pada kehamilan terjadi saat kehamilan berlangsung dan biasanya pada bulan terakhir kehamilan atau lebih setelah 20 minggu usia kehamilan, tekanan darah mencapai nilai 140/90 mmHg, atau kenaikan tekanan sistolik 30 mmHg dan tekanan diastolik 15mmHg di atas nilai normal, hipertensi bisa menyebabkan kondisi praeklamsia yang disertai adanya protein dalam urine.

Penyebab Hipertensi Selama Kehamilan

Hipertensi akibat kehamilan, atau hipertensi gestasional, mempengaruhi sekitar 16% dari kehamilan. Ini berarti bahwa dari 100 ibu hamil hamil, 16% akan mengalami tekanan darah tinggi pada kehamilan. Hal ini biasanya terjadi pada akhir kehamilan atau setelah 32 minggu.

Menurut National Heart, Lung, dan Blood Institute (NHLBI), ada beberapa kemungkinan penyebab tekanan darah tinggi selama kehamilan. Di antaranya adalah: [1]

  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Merokok
  • Minum alkohol
  • Kehamilan pertama kalinya
  • Riwayat keluarga penyakit ginjal, preeklamsia, atau hipertensi kronis
  • Usia (lebih dari 40)
  • Teknologi bantu (seperti IVF)

Wanita yang telah memiliki tekanan darah tinggi yang sudah ada berada pada risiko yang lebih tinggi untuk komplikasi terkait selama kehamilan dibandingkan dengan tekanan darah normal.

Baca juga: Penyebab Keputihan Saat Hamil

Ciri Ciri Tekanan Darah Tinggi Saat Hamil

Agar Anda dapat melakukan penanganan secara tepat sebaiknya kita kenali ciri-ciri hipertensi saat hamil.

  • Pengukur tekanan darah menunjukan 140 mmHg atau diastolik 90 mmHg
  • Sesak napas karena adanya cairan di paru-paru
  • Sakit kepala
  • Perut bagian atas mengalami nyeri
  • Mual dan muntah
  • Penurunan trombosit dalam darah
  • Penglihatan menjadi kabur

Klasifikasi Jenis Hipertensi Selama Kehamilan

Klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasarkan The National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy (NHBPEP) memberikan suatu klasifikasi untuk mendiagnosa jenis hipertensi dalam kehamilan.

1. Hipertensi gestasional

Hipertensi gestasional yang timbul pada kehamilan tanpa disertai proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan pasca-persalinan atau kematian dengan tanda-tanda preeklampsia tetapi tanpa proteinuria.

Wanita dengan hipertensi gestasional memiliki tekanan darah tinggi yang berkembang setelah 20 minggu kehamilan. Tidak ada kelebihan protein dalam urin atau tanda-tanda lain dari kerusakan organ.

2. Hipertensi kronik

Hipertensi kronik adalah yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu atau hipertensi yang pertama kali didiagnosis  setelah umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca-persalinan.

3. Hipertensi kronik dengan preeklamsia

Preeklampsia pada hipertensi kronik adalah hipertensi kronik disertai tanda-tanda preeklampsi atau hipertensi kronik disertai proteinuria.

Kondisi ini terjadi pada wanita dengan tekanan darah tinggi kronis sebelum kehamilan yang kemudian mengembangkan memburuk tekanan darah tinggi dan protein dalam urine atau kesehatan lainnya komplikasi selama kehamilan.

Baca juga: Keluhan ibu hamil trimester 1, 2 dan 3

Resiko Hipertensi Selama Kehamilan

  • Pertumbuhan janin terhambat – Janin yang tidak cukup menerima oksigen dan nutrisi bisa menghambat proses pertumbuhan janin.
  • Aliran darah ke plasenta berkurang – Kondisi ini bisa membuat bayi dalam kandungan tidak mendapat cukup oksigen dan nutrisi.
  • Persalinan prematur – Dalam proses kehamilan, kesadaran dan perawatan pada awal kehamilan diperlukan untuk mencegah komplikasi yang berpotensi mengancam nyawa karena persalinan yang prematur. Caranya dengan jalan induksi atau operasi caesar. Hal ini dilakukan untuk mencegah eklamsia dan komplikasi lainnya.

Cara mengatasi hipertensi pada ibu hamil

Tekanan darah tinggi dialami oleh sekitar 6-8% wanita hamil. Beberapa faktor risiko hipertensi selama kehamilan meliputi hipertensi sebelum kehamilan, hamil janin kembar, penyakit kronis, atau pola makan yang buruk.

1. Rubah Gaya dan Pola Hidup

Pola hidup sehat akan meningkatkan potensi ibu untuk terhindar dari hipertensi dalam kehamilan. Jauhi minuman yang beralkohol, jangan biasakan anda merokok, hindari stress, dan atur pola makan yang sehat.

2. Pantau Berat Badan Anda

Pola makan sehat dan olahraga rutin adalah beberapa cara untuk mengelola peningkatan berat badan selama kehamilan.

Berat badan berlebih bisa meningkatkan masalah kesehatan selama hamil, seperti nyeri punggung, kelelahan, kram, ambeien saat hamil, dan diabetes gestasional.

3. Hindari minuman beralkohol dan berkafein

Kafein dan alkohol mempunyai dampak buruk masalah kesehatan selama hamil. Konsumsi alkohol yang tinggi diketahui dapat meningkatkan tekanan darah pada ibu hamil dan berdampak buruk bagi janin dalam kandungan.