Preeklamsia Pada Ibu Hamil – Gejala, Penyebab, Diagnosa dan Pengobatan

preeklampsia pada ibu hamil

Credit: newkidscenter.com

Preeklamsia adalah gangguan pada masa kehamilan yang menyebabkan tekanan darah tinggi, kerusakan ginjal,  kenaikan kadar protein di dalam urin dan masalah lainnya. Preeklamsia adalah suatu kondisi berpotensi mengancam jiwa yang Mempengaruhi wanita hamil.

Preeklamsia paling sering berkembang selama trimester terakhir, tetapi bisa terjadi setiap saat di paruh kedua kehamilan, selama persalinan, atau bahkan sampai enam minggu setelah melahirkan [1].

Gejala Preeklamsia

Gejala utama dari preeklampsia adalah tekanan darah yang terus meningkat. Oleh karena itu, memonitor tekanan darah secara rutin menjadi hal penting untuk dilakukan selama masa kehamilan.

Selain hipertensi, gejala umum lainnya dari preeklamsia adalah:

  • Sesak napas, karena ada cairan di paru-paru.
  • Sakit kepala parah.
  • Berkurangnya volume urine.
  • Gangguan penglihatan. Pandangan hilang sementara, menjadi kabur, dan sensitif terhadap cahaya.
  • Mual dan muntah.
  • Rasa nyeri pada perut bagian atas. Biasanya di bawah tulang rusuk sebelah kanan.
  • Meningkatnya kandungan protein pada urine (proteinuria).
  • Gangguan fungsi hati.
  • Pembengkakan pada telapak kaki, pergelangan kaki, wajah dan tangan.
  • Berkurangnya jumlah trombosit dalam darah [2].

Bagaimana preeklampsia dapat mempengaruhi Anda dan bayi?

preeklamsia dapat mempengaruhi banyak organ tubuh bahkan dapat mengancam jiwa Anda. Preeklamsia menyebabkan pembuluh darah mengerut, sehingga tekanan darah tinggi dan mengurangi aliran darah yang dapat mempengaruhi organ-organ dalam tubuh, termasuk hati, ginjal, dan otak.

Perubahan ini dapat menyebabkan pembuluh darah mengecil dan bisa saja mengalami kebocoran cairan ke jaringan, sehingga terjadi pembengkakan (edema). Dan ketika pembuluh darah kecil di ginjal bocor, protein dari aliran darah tumpah ke dalam urin.

Jika rahim kurang dialiri darah, dapat menyebabkan masalah pada bayi, pertumbuhan dan perkembangan pembuluh darah plasenta terganggu, sehingga lorong pembuluh lebih sempit dari yang seharusnya serta melakukan reaksi berbeda terhadap rangsangan hormon. Kondisi itu menyebabkan berkurangnya jumlah darah yang bisa dialirkan.

Penyebab Preeklamsia

Beberapa ahli lainnya menduga bahwa kurangnya nutrisi, tingginya kandungan lemak tubuh, faktor keturunan, dan kurangnya aliran darah ke uterus menjadi penyebab terjadinya preeklamsia.

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko wanita mengalami preeklamsia, yaitu:

  • Pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya.
  • Sedang mengidap penyakit tertentu, seperti sindrom antifosfolipid, diabetes, lupus, hipertensi, atau penyakit ginjal.
  • Faktor usia. Wanita hamil di atas usia 40 tahun punya risiko preeklamsia lebih tinggi.
  • Obesitas saat hamil. Wanita Asia dengan indeks massa tubuh 25 atau lebih saat hamil bisa meningkatkan risiko preeklamsia.

Diagnosis pre-eklampsia dan pengobatan

  • Cek kesehatan secara menyeluruh.
  • Ukur tekanan darah secara berkala.
  • Tes Urine untuk menilai Adanya protein dalam urin.
  • Hitung darah lengkap, atau CBC, untuk mencari jumlah sel darah yang abnormal seperti trombosit kurang dari 100.000 atau rendah jumlah sel darah merah.
  • USG untuk memeriksa usia dan kondisi janin mungkin diperlukan.
  • Tes fungsi hati.